Category Archives: News

Penemuan Hewan-hewan Unik

Penemuan Hewan-hewan Unik

Ada yang mampu berpendar seperti lampu dan ada yang gemar melahap besi.

Ikan Pancake Batfish (Discovery)
Setiap tahun spesies-spesies hewan baru ditemukan. Banyak di antaranya memiliki keunikan yang khas dan tak ditemukan sebelumnya.

Pada 2010, beberapa spesies menarik berhasil ditemukan oleh para ilmuwan. Ada yang bisa berpendar seperti lampu, ada yang melahap besi, ada pula yang mampu menghasilkan bahan yang lebih kuat dari kevlar. Berikut ini spesies-spesies unik 2010 yang berhasil dihimpun oleh situs LiveScience.

1. Jamur Bioluminescent 

Jamur bercahaya ini ditemukan di habitat hutan Atlantic dan dikumpulkan di Sao Paulo Brazil. Jamur kecil ini berdiameter kurang dari 8 mm dengan diameter topi yang lebih kecil dari 2 cm.

 Ia memiliki batang yang terlapis oleh gel, dan mampu memendarkan cahaya hijau kekuningan. Profesor Biologi dari San Francisco State University yang menemukan jamur ini, Dennis Desjardin menamakan spesies ini Mycena luxaeterna (cahaya abadi). Diperkirakan, ada sekitar 1,5 juta spesies jamur di bumi. Hanya 71 di antaranya yang merupakan jamur yang dapat berrcahaya.

2. Laba-laba Darwin’s Bark Spider

Hewan ini berasal dari Madagaskar, dan dinamakan Caerostris darwini. Laba-laba ini terkenal dengan jaring buatannya yang begitu besar dan panjang serta kuat. Jaring laba-laba ini bisa merentang hingga 25 meter.

Darwin

Salah satu contohnya, ia bisa merentang di atas sebuah sungai di Madagaskar dengan lebih dari 30 serangga yang terjebak di jaring tersebut. Tak cuma panjang, namun jaring laba-laba ini juga dua kali lebih kuat dari jaring laba-laba lain dan 10 kali lebih kuat dari bahan kevlar berukuran sama.

 

3. Bakteri Titanic

Ini adalah bakteri yang ditemukan oleh para ilmuwan dari Dalhousie University Kanada dan University of Sevilla Spanyol pada bangkai kapal RMS Titanic.

Bacterium (Halomonas titanicae)

Bakteri dengan nama latin Halomonas titanicae itu mengkonsumsi besi dan baja, ditemukan melekat di permukaan sisa-sisa Titanic yang tenggelam di Samudra Atlantik.  

 

4. Biawak Sierra Madre 

Biasa disebut biawak tutul emas atau biawak Sierra Madre Forest, kadal raksasa ini ditemukan di hutan Sierra Madre di Pulau Luzon Filipina.

Monitor Lizard (Varanus bitatawa) Common name: Sierra Madre Forest Monitor or Golden Spotted Monitor

Biawak bernama latin Varanus bitatawa itu, memiliki bobot sekitar 10 kg dan panjang sekitar 2 meter, dan sehari-harinya menghabiskan waktunya di pepohonan dan memakan buah-buahan. 

 

5. Lintah Tiran

Lintah ini ditemukan di Peru, pada selaput rongga hidung seseorang. Memiliki panjang 5 cm, hewan penghisap darah ini memiliki rahang tunggal dan gigi-gigi yang besar.

Leech (Tyrannobdella rex)

Ia dinamakan Tyrannobdella rex (artinya: raja lintah tiran). Setidaknya kini ada 700 spesies lintah yang telah diteliti. Diperkirakan masih ada lebih dari 10 ribu spesies lintah di dunia ini.

 

6. Jamur Bawah Air

 

Underwater Mushroom (Psathyrella aquatica)

Ilmuwan menemukan spesies anyar jamur yang mampu hidup di bawah air. Jamur yang diberi nama Psathyrella aquatica ini hidup di dalam sungai Rogue River Oregon Amerika Serikat. Ajaibnya, jamur ini memiliki insang dan mampu berbuah di dalam air.

 

7. Ikan Pancake Batfish

Ikan ini merupakan spesies yang terkena imbas dari bencana tumpahnya minyak di Teluk Meksiko tahun lalu. Menyandang nama latin Halieutichthys intermedius, ikan ini hidup di wilayah perairan dalam.

Ikan Pancake Batfish

Dengan bentuk tubuhnya yang ceper seperti kue serabi, ikan ini memiliki gerakan yang aneh. Lebih mirip melompat dengan siripnya di sepanjang dasar laut, ketimbang berenang. 

Cara Penguin Selamat dari Beku

Cara Penguin Selamat dari Beku

Penguin bergerak di dalam kerumunan.

Penguin bergerak di dalam kerumunan menggunakan cara yang sama dengan cara suara dihantarkan melalui cairan. Hanya saja, dengan pergerakan yang lebih lambat. (lifeslittlemysteries.com)
 
Bagi penguin yang berusaha agar mereka dapat bertahan dalam cuaca ekstrim di kutub selatan, berjubel berdesakan merupakan masalah hidup atau mati. Burung-burung dalam koloni tersebut saling berkumpul secara rapat, saking rapatnya hingga pergerakan individu tak dimungkinkan.

Pergerakan kolektif merupakan satu-satunya pergerakan yang bisa dilakukan. Dan penguin yang berdiri di pinggir kerumunan akan mati kedinginan jika mereka tidak secara terus menerus bergerak ke arah tengah kerumunan.

Namun, bagaimana reorganisasi kolektif yang secara konstan berlangsung itu terjadi? Bagaimana jutaan pergerakan dari sebuah koloni berlangsung secara terus menerus tanpa saling tabrak berantakan? Ternyata, rahasianya ada di fisika.

Penguin bergerak di dalam kerumunan menggunakan cara yang sama dengan cara suara dihantarkan melalui cairan. Hanya saja, dengan pergerakan yang lebih lambat.

“Setiap 30 sampai 60 detik, seluruh penguin mengambil satu langkah kecil yang gerakannya tampak seperti gelombang dalam seluruh kerumunan tersebut,” kata Daniel Zitterbart, peneliti dari University of Erlangen-Nuremberg, Jerman, seperti dikutip dari Life’s Little Mysteries, 7 Juni 2011.

Pada laporannya yang dipublikasikan di jurnal Plos ONE, Zitterbart dan rekan-rekannya menyebutkan, saat diteliti, seluruh penguin mengambil langkah antara 5 sampai 10 sentimeter namun dengan cara yang sangat terkoordinasi.

“Sejalan dengan waktu, pergerakan-pergerakan kecil ini mengarah ke reorganisasi besar-besaran di dalam kerumunan penguin tersebut,” ucap Zitterbart.

Serupa dengan pergerakan suara di dalam zat cair, sebut para Zitterbart, setiap individu penguin tidak mengubah posisinya terhadap tetangga mereka. “Penguin juga tidak memaksa diri mereka masuk atau keluar dari kerumunan,” sebutnya.

Peneliti menyebutkan, penguin jauh lebih baik dibanding manusia dalam melakukan ‘pergerakan teratur’ seperti itu. Umumnya, manusia jika dikumpulkan sebanyak dan sepadat itu malah saling bertabrakan dan berdesakan.

“Bagaimana pergerakan ‘bergelombang’ ini sangat tidak terkoordinasi dan berbahaya di dalam kerumunan manusia tetapi tidak demikian dengan penguin tetaplah menjadi sebuah misteri,” ucap Zitterbart. (eh)

• VIVAnews

Spesies Kepiting Raksasa Baru

Spesies Kepiting Raksasa Baru

Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 cm jika kaki depannya dipanjangkan.

Salah satu spesies kepiting di Cocos Island, Costa Rica (allpostersimages.com)
 
Sebuah spesies kepiting darat raksasa ditemukan di Cocos Island, Costa Rica. Hewan itu ditemukan oleh Robert Perger dan Rita Vargas, peneliti dari University of Costa Rica serta Adam Wall dari Los Angeles County Natural History Museum.Tim peneliti menemukan kepiting spesies baru itu pada sebuah pulau di kawasan samudera Pasifik. Oleh penemunya, kepiting tersebut diberi nama Johngarthia cocoensis.

Karakteristik yang membedakan antara J. cocoensis dengan kepiting  lainnya, menurut peneliti, adalah dari ukurannya yang besar. Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 sentimeter jika kaki depannya dipanjangkan. Adapun hewan betina memiliki ukuran yang lebih kecil.

Saat ditemukan, spesies kepiting ini tinggal di dalam lubang yang mereka gali sendiri. Santapan utama mereka adalah rumput dan benih-benih.

Menurut Perger, J. cocensis mirip dengan kepiting J. malpilensis yang tinggal di kepulauan sekitar Cocos Island.

“Persamaan antara J. cocensis dengan spesies lainnya di kawasan barat Pasifik mengindikasikan bahwa larva, yang tumbuh berkembang di laut, kemungkinan telah melintas di Cocos Island karena tersapu gelombag,” ucap Perger, seperti dikutip dari News24, 22 Juni 2011.

Hewan-hewan ini, kata Perger, kemudian beradaptasi dengan habitat barunya dan tumbuh menjadi sebuah spesies baru.

Sebagai informasi, Cocos Island berada di lepas pantai Kolombia, namun berada di dalam perairan teritorial Costa Rica. Pulai ini merupakan satu-satunya pulau di kawasan barat Pasifik yang memiliki iklim hutan tropis yang lembab serta memiliki beraneka ragam spesies hewan.

• VIVAnews

Spesies Baru Ditemukan di New Guinea

Spesies Baru Ditemukan di New Guinea

New Guinea merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland

Kodok bertaring, salah satu spesies hewan yang ditemukan di New Guinea. (squizz.com.au)
 
Sejenis kanguru pohon baru, hiu sungai sepanjang 2,5 meter, kodok dengan taring seperti vampir dan seekor kadal berwarna turquoise merupakan beberapa dari ratusan spesies hewan baru yang ditemukan oleh para konservasionis yang bekerja di New Guinea.

Selama penelitian 10 tahun terakhir, secara total, ada sekitar 1.060 spesies seperti 218 tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 580 invertebrata, 134 amfibi, 2 burung dan 71 jenis ikan baru berhasil ditemukan.

Pada laporan bertajuk The Final Frontier yang disusun oleh World Wildlife Fund (WWF) sebagai bagian dari ulang tahun mereka yang ke 50 itu juga menandai meningkatnya tren punahnya hewan dan tumbuhan di seluruh dunia dan membuat seperempat mamalia dunia masuk ke daftar terancam.

Spesies-spesies di atas ditemukan rata-rata dalam kecepatan 2 hewan per minggu dalam rentang 1998 sampai 2008 oleh beberapa kelompok tim peneliti yang mengunjungi berbagai lingkungan pulau itu mulai dari hutan yang lebat, perairan, hingga kawasan pesisir.

Satu tim peneliti pernah menemukan spesies burung baru yang diberi nama wattled smoky honeyeater hanya dalam hitungan detik setelah mereka meninggalkan helikopter yang mengantarkan mereka ke sana. Adapun temuan yang paling mengejutkan mungkin adalah spesies hiu baru.

Melihat dari ukurannya, ikan hiu air tawar ini dinilai sangat berhasil menyembunyikan diri. Ikan yang diberi nama Glyphis garricki, mengikuti nama Jack Garrick, zoologist yang pertamakali menemukannya itu langsung masuk daftar hewan terancam punah karena jumlahnya yang sangat jarang.

“Setelah lebih dari 3 dekade, peneliti juga kembali menemukan satu jenis spesies lumba-lumba baru,” kata Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, seperti dikutip dari Guardian, 27 Juni 2011. “Laporan ini mengingatkan kita bahwa Bumi penuh dengan makhluk fantastis,” ucapnya.

Wright menyebutkan, banyaknya keanekaragaman ini sangat mempesona. Akan tetapi, kegembiraan para peneliti kini berada dalam ancaman. “Meski ada upaya maksimal yang dilakukan oleh organisasi seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seluruh spesies yang kami inginkan,” ucapnya.

“Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, pesisir pantai terus dibangun dan sejumlah spesies akan terhapus,” kata Wright. “Kepunahan tidak mungkin dihindari sebagai konsekuensi dari teori ‘seleksi alam’ milik Darwin. Namun manusia akan menambahkan beban yang menjurus ke ‘seleksi tidak alami’ yang terjadi,” ucapnya.

Alam akan berusaha untuk mengatasi, kata Wright. Namun kita sebagai manusia lah yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membangun masa depan di mana lingkungan sangatlah dianggap penting. “Kita harus memilih untuk melakukan itu,” ucapnya.

New Guinea sendiri merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland dan menjadi bagian dari Indonesia dan Papua New Guinea. Pulau ini merupakan tempat bernaungnya hutan hujan terbesar ketiga di dunia dan sekitar 8 persen spesies hewan yang ada di seluruh dunia.

Rendahnya jumlah populasi manusia di pulau itu telah melindungi sejumlah spesies hewan yang ada di sana. Sayangnya di tahun 2020 mendatang, separuh hutan yang ada di sana akan musnah karena penebangan liar.

• VIVAnews

Penguin Tersasar

Penguin Tersasar Diminta Pulang Sendiri

Alasannya adalah karena penguin emperor seusianya justru biasa ditemukan di kawasan utara Antartika, di atas bongkahan es, di laut lepas. (paraorkut.com)
 
 Seekor penguin emperor muda yang tersasar hingga pantai di Selandia Baru pekan lalu tidak akan mendapatkan tumpangan gratis ke rumahnya di kutub selatan. Namun demikian, burung itu setidaknya akan diantarkan hingga ke dekat tempat tinggalnya.Penguin itu, yang kemudian diberi nama Happy Feet, tersasar sekitar 3.200 kilometer dari habitat alaminya di Antartika, kutub selatan. Ia sempat mengalami penurunan kesehatan karena memakan pasir pantai, namun kini kesehatannya mulai pulih kembali.

Sebelum memutuskan untuk mengantarkan pulang hingga separuh perjalanan, petugas kelestarian lingkungan kebingungan menemukan cara untuk mengembalikan hewan malang ini ke populasinya.

Pilihan untuk mengirimnya kembali ke Antartika segera dicoret. Selain sulitnya masalah teknis, dikhawatirkan ia akan menularkan infeksi yang dialami saat menempuh perjalanan ke Selandia Baru pada penguin lain.

Akhirnya, pilihan yang disepakati adalah mengantarkan penguin itu separuh jalan. Caranya dengan melepaskannya di Southern Ocean, kawasan perairan di tenggara Selandia Baru. Dari sana, Happy Feet dipersilakan untuk berenang pulang.

“Alasan untuk tidak memulangkan penguin ini secara langsung ke kutub selatan adalah karena penguin emperor seusianya justru biasa ditemukan di kawasan utara Antartika, di atas bongkahan es, di laut lepas,” kata Peter Simpson, juru bicara petugas pelestarian lingkungan Selandia Baru, seperti dikutip dari News24, 1 Juli 2011.

Kawasan di mana Happy Feet akan dilepaskan berada di ujung utara kawasan di mana penguin emperor muda biasanya tinggal. Namun demikian, Simpson menyatakan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti berapa jarak yang harus ditempuh penguin itu sampai ke tujuan akhirnya.

Saat ini, penguin itu sedang memulihkan kesehatannya di Wellington Zoo. Ia menjalani prosedur medis untuk mengeluarkan pasir yang ia makan karena mengira itu adalah salju.

Dokter berhasil mengangkat sekitar separuh jumlah pasir yang ada di sistem pencernaannya. Namun menurut Kate Baker, juru bicara kebun binatang, dari pemantauan sinar X, separuh pasir itu akan dapat dikeluarkan secara alami lewat pembuangan. (eh)

Salah Arah, Penguin Tersasar 4.000 Mil

Diperkirakan, penguin itu telah berenang selama lebih dari satu bulan lamanya.

Mengingat jauhnya jarak yang ia tempuh dari Antartika ke Selandia Baru, diperkirakan penguin itu telah berenang selama lebih dari satu bulan lamanya. (AP Photo/New Zealand Herald, Mark Mitchell)
 
 Saat sedang berenang di perairan es di Antartika, kutub selatan, seekor penguin emperor muda mengambil arah yang salah. Ia akhirnya terdampar di Selandia Baru. Burung itu tiba di selatan North Island, atau sekitar 4.000 mil jauhnya dari habitatnya.

Sebagai informasi, terdapat lebih dari 2 lusin koloni penguin di Antartika. Namun ini merupakan kali pertama seekor penguin hadir di Selandia Baru dalam 44 tahun terakhir.

Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh tersebut dijumpai oleh seorang wanita yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya di pantai. Ketika itu, penguin yang tingginya baru mencapai sekitar 60 centimeter beranjak keluar dari air.

Menurut para pakar kelautan, penguin Emperor mampu berenang dengan kecepatan 15 mil per jam. Namun karena ia harus beristirahat, kemungkinan ia tidak akan berenang dengan kecepatan itu secara terus menerus.

Mengingat jauhnya jarak yang ia tempuh dari Antartika ke Selandia Baru, diperkirakan penguin itu telah berenang selama lebih dari satu bulan lamanya. Perjalanan ini sangat luar biasa apalagi dilihat dari tingginya (penguin Emperor dewasa bisa tumbuh hingga 1,2 meter), penguin tersebut diperkirakan baru berusia 10 bulan

Larva Belut Misterius di Bali

Larva Belut Misterius di Bali

Larva belut ini sangat tipis dan transparan. Diduga tak memiliki sel darah merah.

Belut Larva Bali (wikimedia)
Seekor belut transparan tertangkap kamera di lepas pantai timur Bali. Belut larva itu diambil Bali Reef Divers dan dimuat Wired.com.

Belut yang menyerupai pita itu, sangat tipis dan nyaris tak terlihat mata. Selama fase larva, belut ini tidak memiliki sel darah merah. Organ tubuh mereka kecil dan jaringan internalnya transparan, membantu mereka untuk menghindar dari para predator. Dalam bahasa latin, belut larva ini disebut dengan leptocephalus atau kepala kecil.

Pada awalnya, belut larva dianggap berasal dari telur cacing tanah. Kemudian dianggap sebagai ikan. Namun, pada akhirnya, leptocephalus dianggap sebagai larva yang tidak berbeda dengan belut.

Periode larva sendiri bisa berlangsung antara tiga hingga lebih dari satu tahun. Para ilmuan belum memastikan makanan belut larva ini. Namun, mereka menduga larva ini makan partikel-partikel kecil yang mengapung di lautan

Ikan Lele Albino Raksasa

Ikan Lele Albino Raksasa

Lele Albino Raksasa (dailymail.co.uk)

 Seekor ikan lele albino raksasa ditemukan oleh Chris Grimmer di Sungai Ebro, dekat Barcelona, Spanyol. Ikan ini memecahkan rekor sebagai ikan lele albino terbesar yang ditangkap melalui pemancingan.

Saat itu, Chris mengikuti sebuah tur memancing. Awalnya, dia tidak menyangka ikan yang memakan umpannya berukuran raksasa. Chris memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk menggulung senar pancingnya setelah umpan yang dia lempar disambar ikan ini.

“Butuh waktu lama untuk menariknya, seperti menarik sebuah bus,” kata Chris sebagaimana dimuat laman Daily Mail.

“Setelah itu, saya sangat lelah dan nyaris tak bisa berjalan, tapi tidak sia-sia.”

Ikan lele itu kemudian ditimbang. Ternyata, beratnya sekitar 88 kg dengan panjang 2,4 meter. Setelah penimbangan, ikan ini kemudian dilepaskan kembali ke sungai.

Sementara itu, pemandu yang mengorganisir tur itu, Ashley Scott mengatakan sangat yakin tangkapan itu telah memecahkan rekor ikan lele terbesar melalui cara pemancingan. “Kami tahu catatan rekor ikan lele, jadi kami langsung menyadari bahwa itu adalah rekor,” kata Scott.

Rekor ikan lele albino terbesar yang berhasil ditangkap sebelumnya dipegang oleh Sheila Penfold dari London, Inggris. Dia berhasil menangkap seekor ikan lele albino seberat 86 kilogram pada Oktober tahun lalu.

Namun, ikan lele terbesar yang pernah ditangkap di muka bumi adalah ikan lele raksasa seberat 293 kg. Ikan ini tertangkap di Sungai Mekong, Thailand pada 2005. (umi)

BERITA TERKAIT
  • Hewan Ini Lahir dengan Kelamin Ganda
  • VIDEO: Ikan ‘Kepala Buaya’ di Kolam Majapahit
  • Singa Berselera Makan Manusia Setelah Purnama
  • Dinosaurus Ini Lebih Seram dari T. Rex
  • Misteri Kura-kura Selamat dari ‘Kiamat’

Siput ber klorofil

Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan. Para ilmuwan memperkirakan siput cerdik ini mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen curian itu mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi.

“Hewan ini bisa membuat molekul berisi energi tanpa makan apa-apa,” kata Sydney Pierce, pakar biologi dari Universitas South Florida di Tampa. Pierce telah mempelajari mahluk unik ini, yang telah resmi dinamakan Elysia chlorotica, selama 20 tahun.

Ia mengajukan temuan terbarunya pada tanggal 7 Januari 2010, pada pertemuan tahunan Komunitas Integratif dan Perbandingan Biologi di Seattle. Temuan ini dilaporkan pertama kali oleh jurnal Science. “Ini pertamakalinya hewan multiselular bisa menghasilkan klorofil,” tutur Pierce.

Siput laut ini tinggal di rawa-rawa air asin di New England, Kanada. Selain mencuri gen untuk menghasilkan pigmen hijau klorofil, hewan ini juga mencuri bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas, yang dipakai untuk melakukan fotosintesis. Kloroplas menggunakan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, seperti tanaman, sehingga hewan ini tak perlu makan untuk mendapatkan energi.

“Kami mengumpulkan sejumlah hewan ini dan menyimpannya di akuarium selama berbulan-bulan,” kata Pierce, “Asalkan diberi cahaya selama 12 jam sehari, mereka bisa bertahan (tanpa makan).”

Para peneliti memakai pelacak radioaktif untuk memastikan bahwa siput-siput ini benar-benar menghasilkan klorofil, dan bukan mencurinya dari pigmen yang sudah pada alga. Nyatanya, siput-siput ini mengintegrasikan materi genetika dengan begitu sempurna sehingga bisa diturunkan pada generasi selanjutnya.

Anak-anak dari siput yang sudah mencuri gen juga bisa menghasilkan klorofil sendiri, walaupun mereka tak bisa berfotosintesis sebelum mereka makan cukup alga hingga bisa mencuri cukup kloroplas. Sejauh ini kloroplasnya belum bisa mereka produksi sendiri. Keberhasilan siput-siput ini mengagumkan, dan para ilmuwan juga masih belum pasti bagaimana caranya hewan ini bisa memilih gen yang mereka butuhkan.

“Mungkin saja DNA dari satu spesies bisa masuk ke spesies yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh siput jenis ini. Tapi mekanismenya masih belum diketahui,” ungkap Pierce.

Tikus Raksasa

Tikus Raksasa

 

Sebuah tim ilmuwan baru-baru ini menemukan seekor tikus raksasa. Tikus ini ditemukan di pedalaman hutan New Guinea

Ular Pemangsa Mayat

Ular Pemangsa Mayat – Aneh, Mengherankan, Ular Itu Paham Bahasa Manusia

Warga menunjukkan sarang ular di samping sebuah nisan. Meski sudah lama dilepas dan dikembalikan ke tempat semula di lubang kuburan yang ambruk, ular itu sampai sekarang masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Batumar-mar, Pamekasan.
Bahkan, sebagian besar masyarakat Batumar-mar meyakini bahwa ular sepanjang 4 meter berdiameter 40 cm yang ditangkap Madin (42), warga Kampung Kabe’en, Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumar-mar, itu sebagai ular jadi-jadian.
Warga menyebut ular itu berjenis cobra, tetapi pengamat ular dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair), menduga jenis ular itu sebagai ular sawah atau ular piton. Jika ular piton, maka ular itu kemungkinan merupakan jenis Retikulatus. Ular ini merupakan ular piton yang sisiknya berwarna hitam.
Selain diduga memangsa mayat, ular berkulit hitam dan lorek putih itu dipercaya mengerti bahasa manusia , ular itu sempat diajak di tengah kerumunan warga. Ketika dilepas, ular itu lebih dulu dimandikan air kembang dan airnya diminum ular sampai habis.
“Ular itu benar-benar aneh. Tidak seperti ular biasa yang sering lihat. .Sewaktu pertama kali ditangkap , terlihat Diameter ular tersebut kurang lebih 40 cm dan tiba2 mengkerut menjadi 10 cm dan sangat lemas, sebagian warga meminta agar (Madin)  segera membunuh ular itu. Namun, Madin menolak karena ada sesuatu yang aneh, dan dia mengajak ular tersebut berdialog yang disaksikan oleh warga setempat.
Selama 21 hari dikurung dalam kotak kayu berukuran tinggi 75 cm, panjang 60 cm, dan lebar 50 cm, ular itu tidak mau makan dan minum.
Sejak ular itu ditangkap, didesa itu hujan tidak turun, sedangkan di Desa tetangga tetap hujan.

Warga desa juga diresahkan bahwa Ular tersebut memangsa Mayat, karena beberapa kuburan yang ambruk ternya mayatnya sudah hilang.. selengkapnya baca di Lintas berita